Minggu, 05 Juli 2015


hai slamat datang di blogku semoga anda suka dengan isi blog saya ;
selamat membaca

pengorbanan sahabat sejati :)


Hari ini adalah hari ulang tahun sahabatku, “septian”. Dia, terlihat bahagia karena orang tuanya memberinya hadiah yang indah. Sedangkan, teman-teman juga memberinya banyak hadiah.Tapi, diulang tahunnya kali ini aku tidak bisa memberinya apa-apa. Karena, keluargaku sekarang sedang kesulitan ekonomi. Aku berharap agar acep mengerti keadaanku sekarang.Dan, ternyata acep mengerti keadaan ku sekarang. acep memang sahabat yang paling baik yang pernah aku miliki.
Beberapa hari kemudian, septian pun jatuh sakit. Aku ingin menjenguknya di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, ibu acep berkata, “septian sakit parah dan kemungkinan sudah tidak ada harapan untuk hidup lebih lama”. Dia terserang penyakit yang sangat parah dan tidak ada kemungkinan untuk sembuh. Satu persatu organ tubuhnya rusak dan butuh donor yang cocok untuknya.

Aku pun sedih melihat sahabat ku harus menanggung sakitnya sendiri. Aku mencoba untuk pergi ke laboratorium untuk tes apakah organ tubuh ku cocok untuk septian Aku ingin melihat sahabat ku hidup sehat dan bahagia seperti dulu lagi. Aku mencoba membantunya sebisa yang aku bisa.
Tenyata, hasil tesnya cocok dan aku meminta izin kepada ibu untuk mendonorkan organ tubuh ku pada acep. Tapi, ibu tidak menyetujui keputusan ku, karna ibu tidak ingin apabila nanti akibatnya terjadi padaku. Karena ibu sangat sayang padaku dan tidak ingin terjadi apa-apa dengan ku. Tapi, aku sangat ingin mendonorkan organ tubuh ku pada acep. Aku berusaha meyakinkan ibu agar ibu menyetujui keputusan ku.Dan akhirnya, ibu mengerti betapa septian sangat membutuhkan donor itu. Tapi, ibu juga kelihatan kurang ikhlas. ”Tapi, ini demi acep bu...” ucapku. ”iya nak ibu mengerti perasaan mu. Tapi apakah tidak bisa menggunakan cara yang lain nak...??” jawab ibu. ”Ayolah bu...!!” ucapku. ”Yaudah, terserah padamu ibu sudah mengingatkan mu pokoknya..” jawab ibu.
Setelah mendapat persetujuan ibu, keesokan harinya pun aku langsung diperbolehkan untuk pergi operasi. Alhamdulillah, operasi berjalan lancar dan selamat. Organ tubuh ku sekarang berada di dalam tubuh septian. Kami, berdua merasa senang karena operasinya lancar.Satu hari, dua hari, rasanya badan masih terasa sehat. Tapi lama kelamaan badan semakin hari semakin lemas dan sering juga sakit. ”Apakah ini akibat dari operasi kemarin..??” tanyaku dalam hati. Akhirnya aku harus menanggung hidup ku di atas kursi roda,karena aku sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan.
Hari demi hari telah berganti, aku sudah mulai beranjak remaja. Sekarang aku sudah bersama dengan orang yang menyayangiku, yaitu “annisa”. annisa sangat sayang padaku dan aku pun juga sangat sayang padanya. Tapi, disisi lain septian juga mencintai annisa. Aku pun bingung di antara dua pilihan. Disisi lain aku sayang dan mencintai annisa tapi, disisi lain juga aku sangat sayang dan merasa kasihan pada septian.
Akhirnya, aku putuskan untuk merelakan annisa bersama septian. Tapi, annisa membantah keputusan ku. ”nis...kamu sayang sama aku kan..?? kalau kamu sayang sama aku kamu harus mau sama septianya..??” ucapku pada annisa. ”Tapi deni, aku sangat mencintaimu, aku gak bisa bohongi perasaan ku. Aku sangat sayang sama kamu, aku sudah terlanjur jatuh cinta sama kamu..” jawab annisa. ”annisa, aku ini punya penyakit yang parah..aku juga tidak bisa membebankan kamu untuk mendorong aku terus.. lebih baik kamu sama septian ya. Dia ganteng, dia pintar, dia baik hati juga.” sambung ku. (annisa memegang kedua tangan deni) ”deni, walaupun kamu sakit, aku tetap sayang padamu. Aku cinta kamu apa adanya. Sungguh, aku ndak bohong..!!” jawab annisa. “udahlah annisa...Kamu sama septian aja..” Jawab ku.

Aku pun pergi meninggalkan annisa dengan menangis. ”annisa, maafkan aku. Sesungguhnya aku juga tidak ingin kamu bersama dengan septian Tapi, ini demi acep...” Ucap ku dalam hati."deni...,deniiiiii kamu mau kemana..” teriak annisa. ”Baiklah jika ini mau mu. Aku akan turuti mau mu. Tapi dengarkan aku deni, aku akan tetap sayang padamu..” sambung annisa.

Keesokan harinya, annisa pun menyatakan cintanya pada septian dihadapan ku. Aku pun senang walaupun hatiku sangat sakit dan sakit. Aku pun mengatakan selamat kepada mereka berdua. Wajah ku terlihat bahagia padahal hatiku menangis. Hatiku menangis tak masalah buat ku, yang penting sahabat ku bahagia.
Hari demi hari berganti, aku pun terus belajar mulai dari pelajaran yang aku terima di sekolah karena sebentar lagi ujian kelulusan. Aku berjanji akan melupakan kejadian yang telah berlalu.
Setiap acep meminta bantuan selalu aku bantu karena, aku tidak ingin dia merasa sedih. Aku ingin acep selalu bahagia walaupun nyawa taruhannya. Tapi, megapa septian tidak pernah membantu ku sejak dia bersama annisa. Seakan-akan dia sudah lupa sama sahabatnya sendiri. Saat aku terjatuh acep seakan-akan tidak mengerti bahwa aku terjatuh. Tapi itu sudah aku anggap sebagai cobaan dalam persahabatan.
Setahun telah berlalu. Aku sudah lulus dari SMP. Tapi, sayangya aku tidak bisa melanjutkan sekolahku ke tingkat yang lebih tinggi. Karena sakit ku kini makin parah. Semenjak aku mendonorkan organ tubuhku, aku menjadi sakit sakitan. Kini yang aku bisa hanya mengurung diri di dalam rumah dan tidak pernah keluar rumah. annisa pun selalu memberiku semangat untuk sembuh. Tapi, rasanya sudah tidak mungkin lagi untuk aku sembuh.Dua tahun berlalu. deni pun meninggal dunia. annisa pun menangis menyesali kenapa dia harus menuruti kemauan deni dulu. “Seandainya aku sekarang bersama deni, Aku akan coba membuat dia bahagia di akhir hidupnya. Tapi, kini sudah terlambat bagi ku untuk melakukan itu” ujar annisa dalam hati.

acep pun juga menyesal. ”seharusnya aku tidak menerima organ tubuhnya dulu” ucap acep. ”Seharusnya aku yang ada di dalam sini, bukan kamu den... Maafkan aku ya deni, seandainya aku tidak menerima donor tubuhmu, kamu tidak akan seperti ini. Aku sangat benci pada diriku sendiri.., maafkan aku ya deni..” sambung acep.“Sudahlah septian.. Kita tidak boleh menyesali kepergiannya. Ini sudah rencana-Nya yang di atas, syukuri saja apa yang terjadi” Jawab annisa. Akhirnya, septian menyadari ini sudah jalan hidup deni. acep hanya bisa mendo’akan deni disana.“Terima kasih deni.. Atas pengorbananmu, aku dapat hidup bahagia. Sekali lagi, terima kasih” Ucap septian.
                                                                                        Selesai,,,,


trima kasih telah mengunjungi blok saya
    jangan lupa komentarnya